Selasa, 30 Desember 2008

BERAWAL DARI SEBUAH KECINTAAN

Satu langkah maju telah ditempuh oleh kota bengawan ini. Di saat krisis dunia makin mencekam dan travel warning untuk berkunjung ke Indonesia makin menggema, Solo mencoba terus mempertahankan eksistensinya sebagai kota budaya. satu gebrakan berani telah diambil oleh sang walikota dengan mengadakan WHCCE (World Heritage Cities Conference and Expo).

Akibat momentum tersebut, demam budaya pun menjangkiti warga solo. Terutama remaja-remaja yang terlibat sebagai Liaison Officer WHCCE. Tanpa disengaja, WHCCE telah memberikan efek domino yang teramat positig. Remaja-remaja mantan LO WHCCE tersebut memutuskan untuk membentuk sebuah organisasi yang bernama Solo Youth Heritage (SYH).

Kini, nama SYH pelan-pelan mulai menggema di kalangan budawan Solo. Tepuk tangan bergemuruh saat salah seorang mantan LO menyebutkan niatan positif para remaja tersebut disebuah acara makan malam bersama sang walikota. Tanpa terasa puluhan harapan dan tanggung jawab pun mulai bertumpuk di pundak para remaja-remaja cinta budaya tersebut.

Harapan walikota pun makin membumbung. Pasalnya, saat ini pemerintah daerah tengah gencar-gencarnya mengampanyekan cinta budaya. seribu satu cara ditempuhnya agar cagar budaya di kota bengawan ini tetap lestari. Keberadaan SYH mustinya menjadi angin segar bagi pemerintah daerah. Paling tidak, kampanye cinta budaya itu telah mengena pada beberapa remaja, yang selama ini notabene dianggap sebagai generasi MTV. SYH diharapkan bisa mentransferkan ilmu-ilmu budayanya pada masyarakat luas.

Fungsi SYH bagi budaya Solo inilah yang kelak menjadi titik sentral ruh organisasi ini. SYH tak hanya menjadi ajang berkumpul para LO WHCCE untuk bernostalgia saja. Tapi juga sebagai sentral ide-ide brilian bagi kelestarian budaya jawa. Fungsi inilah yang harus digagas secara serius oleh para pegiatnya. Setidaknya, SYH tak ketinggalan dengan organisasi-organisasi lain yang bergerak di bidang yang sama. Sungguh disayangkan jika kelak, ide-ide brilian SYH makin menurun dan bahkan terkubur sama sekali.

Permasalahan benteng vastenburg, optimalisasi pertunjukan wayang di gedung wayang orang, dan pendidikan budaya pada masyarakat, adalah sebagian kecil masalah budaya yang sudah antri menuntut perhatian para pegiat SYH. Namun, pertanyaan terbesar adalah: sudah seberapa jauhkan SYH telah melangkah? Jangan-jangan mimpi-mimpi besar itu hanyalah mimpi yang cukup suaranya saja yang bergema keras.

Dalam istilah jawa, ada ungkapan: obong-obong blarak, berarti: segala sesuatu hanya ramai di awal, tapi pada akhirnya menjadi tak terlihat cahanyanya. Itulah yang musti diwaspadai oleh para remaja-remaja cinta budaya ini. Jangan sampai semangat yang telah menggaung itu hilang di tengah jalan. Cahaya yang sempat berpijar itu meredup setelah beberapa saat.

Kini, banyak orang telah menunggu-nunggu kelahiran bayi bernama SYH itu. Sangat disayangkan jika nanti ternyata bayi itu lahir dalam keadaan mati. Organisasi yang sudah digadang-gadang menjadi pelestari budaya itu harus tetap lahir dalam keadaan sehat. Mereka harus hadir dalam bentuk yang utuh. Bukan hanya dalam bentuk simbol-simbol seperti pakaian adat, atau pun artefak-artefak jawa yang lain. Melainkan, SYH harus hadir sebagai organisasi yang tahu betul akan sejarah budayanya, terlibat dalam pemberdayaan kehidupan sosial budaya masyarakat, dan jika perlu, ikut terlibat dalam pembuatan kebijakan yang berkaitan dengan budaya.

Jika memang SYH mampu ikut terlibat dalam ranah pembuatan kebijakan, maka inilah langkah paling excelent yang mampu diraih oleh para remaja itu. Pada titik tersebut, barulah SYH benar-benar mampu menjaga amanat yang telah diembankan pada bahunya.

Adakah SYH mampu melakukannya? Mari kita lihat bersama saja...

3 komentar:

richie reez mengatakan...

Waw ini tulisan pertama waktu saya googling nyari SYH

Apa kabar SYH?

kedairichie.blogspot.com

rinasari mengatakan...

hahahaha,,,
SYH?
bukannya tinggal kenangan ya,,
euforia yang hanya bersinar sebentar dan tiba-tiba hilang tertutup awan hitam (mo hujan kali ya,he),,

erwan mengatakan...

tifa aku gabung Solo Youth Heritage yo....mosok SYH mendem sih, kita kan bisa nggagas ngrembug via on line di FB opo blog juga gak papa..aku yakin kok buanyak anak2 solo yang pengen migunani tumraping solo!!!